Jumat, 06 Mei 2011

konvergensi PSAK ke IFRS (Akuntansi Internasional, Nama : Anggreini Wulandari. Npm : 20207129, Kelas : 4 Eb 03

Perkembangan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia Menuju

International Financial Reporting Standards ( IFRS )

Rindu Rika Gamayuni

( Fakultas Ekonomi Universitas Lampung )

Abstrak

The Indonesian Financial accounting standars need to adopt to IFRS, so that the Indonesian financial reports can be accepted globally and the Indonesian companies are able to enter the global competition to attract the international investors. Currently, the adoption by Indonesian PSAK is in the form of harmonization, which mean partial adoption. However, Indonesian is planning to fully adopt the IFRS by 2012. Such on adoption will be mandatory for listed and multinational companies.

The decision as to whether Indonesian will fully adopt the IFRS or partly adopt for harmonization purpose needs to be considered carefully. Full adoption of IFRS wil enhance the reliability and comparability of the financial reports internationally. However, it may contradict the Indonesian tax systems and other economic and political situasions.

If Indonesia were to adopt fully the IFRS by 2012, the challenges are faced firstly by academic society and companies. The curriculum, syllabi. And literature need to be adjusted to accommodate the changes. These will take considerable time and efforts due to the many aspects related to the changes. Adjustments also need to be done by corporations or organizations, particularly those with the internationals transactions and interactions.

Full adoption also means the changing of accounting principles that has been applied as accounting standars worldwide. This might not be achieved in a short period, due to a number of reasons :(1) accounting standars are highly related with the tax systems. Adoption to IFRS internationally may change the tax system in each country that fully adopt the IFRS. (2) Accounting standars are accounting policies in order to fulfil the national political and economic necessities that vary in each country. This might be the significant challenges in fully adopting the IFRS.

I. Latar Belakang

Standar Akuntansi di Indonesia saat ini menggunakan secara penuh ( fully adoption ) standar akuntansi internasional atau International Financial Reported Standard (IFRS). Standar akuntansi di Indonesia yang berlaku saat ini mengacu pada US GAAP ( United State Generally Aceptted Accounting Standard ) , namun pada beberapa pasal sudah mengadopsi IFRS yang sifatnya harmonisasi. Adopsi yang dilakukan Indonesia saat ini sifatnya belum menyeluruh, baru sebagian (harmonisasi). Era globalisasi saat ini menunutut adanya suatu system akuntansi internasional yang dapat diberlakukan secara internasional di setiap Negara, atau diperlukan adanya harmonisasi terhadap standar akuntansi internasional, drengan tujuan agar dapatmenghasilkan informasi keuangan yang dapat diperbandingkan, mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif dan hubungan baik dengan pelanggan, supplier, investor, dan kerditor. Namun proses harmonisasi ini memiliki hambatan antara lain nasionalisme dan budaya tiap-tiap Negara, perbedaan kepentian antara perusahaan multinasional dengan perusahaan nasional yang sangat mempengaruhi proses harmonisasi antar Negara, serta tingginya biaya untuk merubah prinsip akuntansi.

Teknologi informasi yang berkembang pesat mambuat informasi menjadi tersedia di seluruh dunia. Pesatnya teknologi informasi merupakan akses bagi banyak investor untuk memasuki pasar modal di seluruh dunia, yang tidak terhalangi oleh batasan Negara, misalnya : investor dari Negara Belanda bisa dengan mudah berinvestasi di Jepang, amerika, Singapura, atau bahkan Indonesia. Kebutuhan ini tidak bisa terpenuhi apabila perusahaan-perusahaan masih memakai prinsip PSAK-nya IAI, uni eropa memakai IAs dan IASB. Hal tersebut melatarbelakangi perlunya adopsi IFRS saat ini.

II. Metode Penelitian

Menghasilkan transparasi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan serta menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.

III. Hasil

Informasi Keuangan yang dapat diperbandingkan, harmonisasi dapat menghemat waktu dan uang, mempermudah transfer informasi kepada karyawan, memudahkan pemahaman atas laporan keuangan denagn penggunaan Standar Akuntansi Keuangan yang dikenal secara internasinal.

Sumber : http://www.szdsgzyzh.com/other/jurnal%20konvergensi%20ifrs-pdf.html ( Universitas Lampung )

http://www.pdfebooksdownloads.com/download/AdopsiIASdalamRangkaianKonvergensiIFRdiIndonesia

Nama : Anggreini Wulandari

NPM : 20207129

Kelas : 4 EB 03

Kamis, 07 April 2011

Bungaku bersemi

Bungaku semakin berwarna...
Bungaku selalu mewangi...
Bungaku terus memekar...

Bukankah ini musim kemarau ??

Bukankah tanah yang kau injak telah mengeras kekeringan ??

Mengapa kau tak layu seperti yang lain ??

Namun kau tetap menjadi bunga yang indah...
Dan selalu indah...
Hanya untukku, sang lebah yang siap untuk menghisap madumu...


From my boy friend ^-^

Hilang

Hilang semua....
Bayangmu yang telah lama terpendam...
Sudah kesesalan yang kualami kini telah menghilang dan telah sirna...

Lupakan....
Keraguan yang selalu kau rasakan...
Termenung dalam pedih yang tersakiti...
Takkan mungkin hadir kembali...
Ku berlari mengejar mimpi yang kini menghilang..
Ku berharap terus bersamamu
Hapus air mata...
Takkan ku biarkan kau terjatuh dalam luka...

Puisi

Indah rambutmu mengurai kata cinta
Tiada indah dunia tanpa kehadiranmu
Teduh indah dunia tanpa kehadiranmu
Teduh hatiku menembus batas rindu

Jelas artinya surga teduh aku dekatmu
Sampai nanti tak terbatas inginku
Harap ini takdirku tuk selalu denganmu
Sampai nanti jiwa ini untukmu

Bukan hanya sumpahku tuk selalu denganmu ..oohh Dewiku..

Sabtu, 02 April 2011

konvergensi psak ke ifrs

Konvergensi PSAK ke IFRS
Dua puluh Sembilan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) masuk dalam program konvergensi IFRS yang dicanangkan DSAK IAI tahun 2009 dan 2010.

"Sasaran konvergensi IFRS yang telah dicanangkan IAI pada tahun 2012 adalah merevisi PSAK agar secara material sesuai dengan IFRS versi 1 Januari 2009 yang berlaku efektif tahun 2011/2012," demikian disampaikan Ketua DSAK IAI Rosita Uli Sinaga pada Public Hearing Eksposure Draft PSAK 1 (Revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan, di Jakarta Kamis 20 Agustus 2009 lalu.

Program konvergensi DSAK selama tahun 2009 adalah sebanyak 12 Standar, yang meliputi:
1. IFRS 2 Share-based payment
2. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
3. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
4. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
5. IAS 28 Investments in associates
6. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
7. IFRS 8 Operating segment
8. IAS 31 Interests in joint ventures
9. IAS 1 Presentation of financial
10. IAS 36 Impairment of assets
11. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent asset
12. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors

Program konvergensi DSAK selama tahun 2010 adalah sebanyak 17 Standar sebagai berikut:
1. IAS 7 Cash flow statements
2. IAS 41 Agriculture
3. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government assistance
4. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
5. IAS 24 Related party disclosures
6. IAS 38 Intangible Asset
7. IFRS 3 Business Combination
8. IFRS 4 Insurance Contract
9. IAS 33 Earnings per share
10. IAS 19 Employee Benefits
11. IAS 34 Interim financial reporting
12. IAS 10 Events after the Reporting Period
13. IAS 11 Construction Contracts
14. IAS 18 Revenue
15. IAS 12 Income Taxes
16. IFRS 6 Exploration for and Evaluation of Mineral Resources
17. IAS 26 Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plan

Banyaknya standar yang harus dilaksanakan dalam program konvergensi ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi DSAK IAI periode 2009-2012. Implementasi program ini akan dipersiapkan sebaik mungkin oleh IAI. Dukungan dari semua pihak agar proses konvergensi ini dapat berjalan dengan baik tentunya sangat diharapkan.

Rosita juga menambahkan bahwa tantangan konvergensi IFRS 2012 adalah kesiapan praktisi akuntan manajemen, akuntan publik, akademisi, regulator serta profesi pendukung lainnya seperti aktuaris dan penilai.

Akuntan Publik diharapkan dapat segera mengupdate pengetahuannya sehubungan dengan perubahan SAK, mengupdate SPAP dan menyesuaikan pendekatan audit yang berbasis IFRS. Akuntan Manajemen/Perusahaan dapat mengantisipasi dengan segera membentuk tim sukses konvergensi IFRS yang bertugas mengupdate pengetahuan Akuntan Manajeman, melakukan gap analysis dan menyusun road map konvergensi IFRS serta berkoordinasi dengan proyek lainnya untuk optimalisasi sumber daya.

Akuntan Akademisi/Universitas diharapkan dapat membentuk tim sukses konvergensi IFRS untuk mengupdate pengetahuan Akademisi, merevisi kurikulum dan silabus serta melakukan berbagai penelitian yang terkait serta Memberikan input/komentar terhadap ED dan Discussion Papers yang diterbitkan oleh DSAK maupun IASB.

Regulator perlu melakukan penyesuaian regulasi yang perlu terkait dengan pelaporan keuangan dan perpajakan serta melakukan upaya pembinaan dan supervisi terhadap profesi yang terkait dengan pelaporan keuanganseperti penilai dan aktuaris. Asosiasi Industri diharap dapat menyusun Pedoman Akuntansi Industri yang sesuai dengan perkembangan SAK, membentuk forum diskusi yang secara intensif membahas berbagai isu sehubungan dengan dampak penerapan SAK dan secara proaktif memberikan input/komentar kepada DSAK IAI.

Program Kerja DSAK lainnya yaitu: Mencabut PSAK yang sudah tidak relevan karena mengadopsi IFRS; Mencabut PSAK Industri; Mereformat PSAK yang telah diadopsi dari IFRS dan diterbitkan sebelum 2009; Melakukan kodifikasi penomoran PSAK dan konsistensi penggunaan istilah; Mengadopsi IFRIC dan SIC per 1 January 2009; Memberikan komentar dan masukan untuk Exposure Draft dan Discussion Paper IASB; Aktif berpartisipasi dalam berbagai pertemuan organisasi standard setter, pembuat standar regional/internasional; serta Menjalin kerjasama lebih efektif dengan regulator, asosiasi industri dan universitas dalam rangka konvergensi IFRS.
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).

Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi Standar Akuntansi Internasional (AISC), merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et al., 1999 dalam Intan Immanuela, puslit2.petra.ac.id)

Natawidnyana(2008), menyatakan bahwa Sebagian besar standar yang menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting Standards (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 sampai dengan 2001 oleh International Accounting Standards Committee (IASC). Pada bulan April 2001, IASB mengadospsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan.

Struktur IFRS

International Financial Reporting Standards mencakup:

* International Financial Reporting Standards (IFRS) – standar yang diterbitkan setelah tahun 2001
* International Accounting Standards (IAS) – standar yang diterbitkan sebelum tahun 2001
* Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) – setelah tahun 2001
* Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC) – sebelum tahun 2001 (www.wikipedia.org)

Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi. Yang pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang kedua adalah pengukuran dan penilaian. Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada tanggal neraca). Hal ketiga yang dimuat dalam standar adalah pengakuan, yaitu kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan. Yang terakhir adalah penyajian dan pengungkapan laporan keuangan. Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan (Chariri, 2009).
Konverjensi ke IFRS di Indonesia

Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.

Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas dari perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB. Adapun posisi IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat ini dan akan diadopsi pada tahun 2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum dalam daftar- daftar berikut ini.


Tabel 1:
IFRS/IAS yang Telah Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember 2008

1. IAS 2 Inventories
2. IAS 10 Events after balance sheet date
3. IAS 11 Construction contracts
4. IAS 16 Property, plant and equipment
5. IAS 17 Leases
6. IAS 18 Revenues
7. IAS 19 Employee benefits
8. IAS 23 Borrowing costs
9. IAS 32 Financial instruments: presentation
10. IAS 39 Financial instruments: recognition and measurement
11. IAS 40 Investment propert

Tabel 2:
IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2009

1. IFRS 2 Share-based payment
2. IFRS 4 Insurance contracts
3. IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
4. IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources
5. IFRS 7 Financial instruments: disclosures
6. IAS 1 Presentation of financial statements
7. IAS 27 Consolidated and separate financial statements
8. IAS 28 Investments in associates
9. IFRS 3 Business combination
10. IFRS 8 Segment reporting
11. IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
12. IAS 12 Income taxes
13. IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
14. IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
15. IAS 31 Interests in joint ventures
16. IAS 36 Impairment of assets
17. IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
18. IAS 38 Intangible assets

Tabel 3:
IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2010

1. IAS 7 Cash flow statements
2. IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government assistance
3. IAS 24 Related party disclosures
4. IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
5. IAS 33 Earning per share
6. IAS 34 Interim financial reporting

Dan untuk hal-hal yang tidak diatur standar akuntansi internasional, DSAK akan terus mengembangkan standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan nyata di Indonesia, terutama standar akuntansi keuangan untuk transaksi syariah, dengan semakin berkembangnya usaha berbasis syariah di tanah air. Landasan konseptual untuk akuntansi transaksi syariah telah disusun oleh DSAK dalam bentuk Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Hal ini diperlukan karena transaksi syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan transaksi usaha umumnya sehingga ada beberapa prinsip akuntansi umum yang tidak dapat diterapkan dan diperlukan suatu penambahan prinsip akuntansi yang dapat dijadikan landasan konseptual. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan untuk transaksi syariah akan dimulai dari nomor 101 sampai dengan 200. (SY)

Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal.

Membahas tentang IAS saat ini lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International Accounting Standard Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of Securities Commissions)

Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia. Suatu perusahaan mulai terlibat dengan akuntansi internasional adalah pada saat mendapatkan kesempatan melakukan transaksi ekspor atau impor. Standard akuntansi internasional (IAS) adalah standard yang dapat digunakan perusahaan multinasional yang dapat menjembatani perbedaan-perbedaan antar Negara, dalam perdagangan multinasional.

IASC didirikan pada tahun 1973 dan beranggotakan anggota organisasi profesi akuntan dari sepuluh negara. Di tahun 1999, keanggotaan IASC terdiri dari 134 organisasi profesi akuntan dari 104 negara, termasuk Indonesia. Tujuan IASC adalah (1) merumuskan dan menerbitkan standar akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan dan mempromosikannya untuk bisa diterima secara luas di seluruh dunia, serta (2) bekerja untuk pengembangan dan harmonisasi standar dan prosedur akuntansi sehubungan dengan pelaporan keuangan.

IASC memiliki kelompok konsultatif yang disebut IASC Consultative Group yang terdiri dari pihak-pihak yang mewakili para pengguna laporan keuangan, pembuat laporan keuangan, lembaga-lembaga pembuat standar, dan pengamat dari organisasi antar-pemerintah. Kelompok ini bertemu secara teratur untuk membicarakan kebijakan, prinsip dan hal-hal yang berkaitan dengan peranan IASC.

IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk memperkuat arsitektur keungan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan.

Tujuan IFRS adalah :memastikan bahwa laporan keungan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang :
1. transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang peiode yang disajikan
2. menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS
3. dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna

Manfaat dari adanya suatu standard global:
1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal
2. investor dapat membuat keputusan yang lebih baik
3. perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai merger dan akuisisi
4. gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat disebarkan dalam mengembangkan standard global yang berkualitas tertinggi.

Hamonisasi telah berjalan cepat dan efektif, terlihat bahwa sejumlah besar perusahaan secara sukarela mengadopsi standard pelaporan keuangan Internasional (IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai dasar standard nasional. Hal ini dilakukan untuk menjawab permintaan investor institusional dan pengguna laporan keuangan lainnya.

Usaha-usaha standard internasional ini dilakukan secara sukarela, saat standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka tidak akan ada masalah, yang menjadi masalah, apabila standard internasional berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah standard nasional (rujukan pertama).

Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu, Standard internasional telah bergerak maju, dan menekan Negara-negara yang kontra. Contoh : komisi pasar modal AS, SEC tidak menerima IFRS sebagai dasar pelaporan keuangan yang diserahkan perusahaan-perusahaan yang mencatatkan saham pada bursa efek AS, namun SEC berada dalam tekanan yang makin meningkat untuk membuat pasar modal AS lebih dapat diakses oleh para pembuat laporan non-AS. SEC telah menyatakan dukungan atas tujuan IASB untuk mengembangkan standard akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan yang digunakan dalam penawaran lintas batas.

>> Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi akibat adanya perkembangan dari segala aspek. Namun dalam mengadopsi IFRS , sayangnya masih terdapat pihak-pihak yang mungkin menentangnya, contoh alasannya adalah pemahaman yang mungkin masih dirasa kurang. Mengapa tidak, IFRS ini dalam penjelasannya masih menggunakan bahasa Inggris yang berarti kita harus menerjemahkannya kedalam bahasa yang sesuai dengan Negara yang akan menganutnya. Dengan ini, permasalahannya adalah kita memerlukan banya waktu untuk menerjemahkan. Serta anggapan bahwa dengan pengubahan ini menimbulkan biaya yang lumayan besar. Karena inilah pengadopsian IFRS di Indonesia belum berjalan.


sumber:
http://theinspiringblog.blogspot.com/2011/02/konvergensi-ifrs-international.html
Sumber : http://www.iaiglobal.or.id/berita/detail.php?catid=&id=84

Senin, 28 Februari 2011

ISAK 11 DISTRIBUSI ASET NON KAS KEPADA PEMILIK

TUGAS AKUNTANSI INTERNASIONAL









INTERPRETASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 11
DISTRIBUSI ASET NON KAS KEPADA PEMILIK



NAMA : ANGGREINI WULANDARI
NPM : 20207129
KELAS : 4 EB 03


UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
2011


INTERPRETASI STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
NO. 11
DISTRIBUSI ASET NON KAS KEPADA PEMILIK


Latar Belakang

01. Terkadang entitas mendistribusikan aset selain kas (asset non kas) sebagai dividen kepada pemilik* yang bertindak dalam kapasitasnya sebagai pemilik. Dalam kondisi tersebut, entitas dapat memberikan pilihan kepada pemilik untuk menerima aset non kas atau alternatif kas.
02. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) tidak memberikan panduan bagaimana entitas harus mengukur distribusi kepada pemilik (umumnya sebagai dividen). PSAK 1 mensyaratkan entitas untuk menyajikan secara detail pengakuan dividen sebagai distribusi kepada pemilik baik dalam laporan perubahan ekuitas atau dalam catatan atas laporan keuangan.

Ruang Lingkup

03. Interpretasi ini diterapkan untuk distribusi searah (nonreciprocal) aset oleh entitas kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik:
(a) distribusi aset nonkas (misalnya aset tetap, bisnis* sebagaimana didefi nisikan dalam PSAK 22, kepentingan pemilik pada entitas lain atau kelompok lepasan sebagaimana didefi nisikan dalam PSAK 58); dan
(b) distribusi yang memberikan pilihan kepada pemilik untuk menerima aset nonkas atau alternatif kas.
04. Interpretasi ini hanya diterapkan untuk distribusi dimana semua pemilik pada kelompok instrumen ekuitas yang sama diperlakukan sama.
05. Interpretasi ini tidak diterapkan untuk distribusi asset nonkas yang dikendalikan oleh pihak yang sama sebelum dan sesudah distribusi. Pengecualian ini berlaku untuk laporan
keuangan terpisah, laporan keuangan individu dan konsolidasi entitas yang melakukan distribusi.
06. Sesuai dengan ketentuan paragraf 5, Interpretasi ini tidak berlaku ketika aset nonkas dikendalikan oleh pihak yang sama baik sebelum dan sesudah distribusi. “Suatu kelompok
individu harus dianggap sebagai pengendali ketika, akibat dari perjanjian kontraktual, secara kolektif mereka memiliki kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi
entitas sehingga dapat memperoleh manfaat dari aktivitas entitas.” Oleh karena itu, distribusi yang berada di luar lingkup Interpretasi ini atas dasar pihak yang sama mengendalikan asset sebelum dan sesudah distribusi, kelompok pemegang saham individual penerima distribusi harus memiliki, sebagai akibat
* Sekumpulan aset dan aktivitas yang saling berintegrasi yang dapat digunakan dan dikelola untuk tujuan menghasilkan pendapatan dalam bentuk dividen, biaya yang lebih rendah atau manfaat ekonomis lain secara langsung kepada investor atau pemilik lainnya.

perjanjian kontrak, suatu pengendalian kolektif (ultimate collective power) atas entitas yang melakukan distribusi.
07. Sesuai dengan ketentuan paragraf 5, Interpretasi ini tidak diterapkan ketika entitas mendistribusikan sebagian dari kepemilikannya pada entitas anak namun mempertahankan pengendalian atas entitas anak. Entitas yang melakukan distribusi yang menghasilkan pengakuan atas kepentingan non pengendali pada entitas anak mencatat distribusi tersebut
sesuai PSAK 4.
08. Interpretasi ini hanya mengatur akuntansi oleh entitas yang melakukan distribusi aset nonkas. Interpretasi ini tidak untuk mengatur akuntansi oleh pemegang saham yang menerima distribusi tersebut.


Permasalahan

09. Ketika entitas mengumumkan distribusi dan mempunyai kewajiban untuk mendistribusikan aset yang bersangkutan kepada pemilik, maka entitas harus mengakui laibilitas atas utang dividen. Interpretasi ini membahas hal-hal berikut:
(a) Kapan entitas harus mengakui utang dividen?
(b) Bagaimana entitas mengukur utang dividen?
(c) Ketika entitas menyelesaikan utang dividen, bagaimana entitas mencatat perbedaan antara nilai tercatat aset yang didistribusikan dan nilai tercatat utang dividen?

INTERPRETASI

Saat Pengakuan Utang Dividen
10. Kewajiban untuk membayar dividen harus diakui pada saat dividen disetujui dan tidak lagi merupakan diskresi entitas, dan tanggal tersebut adalah:
(a) pada saat dividen diumumkan, misalnya oleh manajemen atau dewan direksi, disetujui oleh otoritas terkait, misalnya pemegang saham, jika yurisdiksi mensyaratkan persetujuan
tersebut, atau
(b) pada saat dividen diumumkan, misalnya oleh manajemen atau dewan direksi, jika yurisdiksi tidak mensyaratkan persetujuan lebih lanjut.

Pengukuran Utang Dividen
11. Entitas harus mengukur laibilitas untuk mendistribusikan aset non kas sebagai dividen kepada para pemilik sebesar nilai wajar aset yang akan didistribusikan.
12. Jika sebuah entitas memberikan pilihan kepada pemilik untuk menerima aset non-kas atau alternatif kas, maka entitas harus mengestimasi utang dividen dengan mempertimbangkan baik nilai wajar dari setiap alternatif dan tingkat kemungkinan pemilik untuk memilih setiap alternatif.
13. Pada setiap akhir periode pelaporan dan pada tanggal penyelesaian, entitas harus menelaah dan menyesuaikan nilai tercatat utang dividen. Setiap perubahan nilai tercatat utangdividen, diakui dalam ekuitas sebagai penyesuaian atas jumlah yang didistribusikan.

Akuntansi untuk Mencatat Perbedaan antara Nilai Tercatat Aset yang Didistribusikan dan Nilai Tercatat Utang Dividen Ketika Entitas Menyelesaikan Utang Dividen
14. Ketika entitas menyelesaikan utang dividen, maka entitas harus mengakui perbedaan, jika ada, antara nilai tercatat aset yang didistribusikan dan nilai tercatat utang dividen
dalam laba rugi.

Penyajian dan Pengungkapan
15. Entitas harus menyajikan perbedaan yang dijelaskan dalam paragraf 14 sebagai pos tersendiri dalam laba rugi.
16. Entitas harus mengungkapkan informasi berikut, apabila tepat:
(a) nilai tercatat utang dividen pada awal dan akhir periode; dan
(b) peningkatan atau penurunan nilai tercatat yang diakui dalam periode berjalan sesuai dengan paragraf 13 akibat perubahan nilai wajar aset yang didistribusikan.
17. Jika, setelah akhir periode pelaporan, namun sebelum laporan keuangan disetujui untuk diterbitkan, entitas mengumumkan dividen dengan mendistribusikan aset non kas, maka
entitas harus mengungkapkan:
(a) sifat aset yang didistribusikan;
(b) nilai tercatat aset yang akan didistribusikan pada akhir periode pelaporan; dan
(c) estimasi nilai wajar aset yang akan didistribusikan pada akhir periode pelaporan, jika berbeda dari nilai tercatat, dan informasi tentang metode yang digunakan untuk penentuan
nilai wajar.

TANGGAL EFEKTIF
18. Entitas harus menerapkan Interpretasi ini secara prospektif untuk periode laporan tahunan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan retrospektif tidak diijinkan. Penerapan lebih dini diperkenankan. Jika entitas menerapkan Interpretasi ini diterapkan sebelum 1 Januari 2011, maka entitas harus mengungkapkan fakta tersebut dan juga harus menerapkan PSAK 58 (sebagaimana telah diamandemen Interpretasi ini).

















CONTOH ILUSTRASI
Contoh berikut melengkapi, namun bukan bagian dari ISAK 11.
Ruang Lingkup Interpretasi




CI1. Diasumsikan saham entitas A dimiliki oleh publik. Tidak ada satu pun pemegang saham yang mengendalikan entitas A dan tidak ada kelompok pemegang saham yang terikat dalam kesepakatan kontraktual untuk bertindak bersama-sama mengendalikan entitas A. Entitas A mendistribusikan asset tertentu (misalnya efek tersedia untuk dijual) secara pro-rata kepada para pemegang saham. Transaksi seperti ini berada dalam ruang lingkup Interpretasi.

CI2. Namun demikian, jika salah satu pemegang saham (atau kelompok pemegang saham yang terikat dalam kesepakatan kontraktual untuk bertindak bersama-sama) mengendalikan entitas A baik sebelum maupun sesudah transaksi, seluruh transaksi (termasuk distribusi kepada pemegang saham tanpa hak pengendalian) berada diluar ruang lingkup Interpretasi ini. Karena dalam distribusi secara pro-rata kepada semua pemilik instrumen ekuitas dengan jenis yang sama, pemegang saham pengendali (atau kelompok pemegang saham) akan terus mengendalikan aset non kas setelah distribusi.










CI3. Diasumsikan saham entitas A dimiliki oleh publik. Tidak ada satu pun pemegang saham yang mengendalikanentitas A dan tidak ada kelompok pemegang saham yang terikat dalam kesepakatan kontraktual untuk bertindak bersama-samamengendalikan entitas A. Entitas A memiliki seluruh saham Entitas Anak B. Entitas A mendistribusikan seluruh saham Entitas Anak B secara pro-rata kepada pemegang sahamnya, sehingga Entitas A kehilangan pengendalian atas Entitas anak B. Transaksi tersebut berada dalam lingkup Interpretasi ini.

CI4. Namun demikian, jika entitas A mendistribusikan kepada para pemegang sahamnya atas saham pada Entitas Anak B hanya mewakili kepentingan non-pengendali dalam Entitas Anak B dan tetap mempertahankan pengendalian atas Entitas Anak B, maka transaksi tersebut berada diluar ruang lingkup Interpretasi ini. Entitas A mencatat distribusi tersebut sesuai PSAK 4. Entitas A mengendalikan Entitas B baik sebelum dan sesudah transaksi. Pemegang Saham Publik Entitas A Pemegang Saham Publik Entitas A Entitas Anak B Entitas Anak B

Senin, 03 Januari 2011

Jurnal PI

Jurnal PI ( Pengaruh Profitabiltas dan Leverage Terhadap Laba Per Lembar Saham Pada PT. Unilever Tbk.)
Abstraksi
Anggreini Wulandari. 20207129
Pengaruh Profitabilitas dan Leverage Terhadap Laba Perlembar Saham (EPS) PT. Unilever Tbk.
PI. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma, 2010
Kata Kunci : Pengaruh, Profitabilias dan Leverage Terhadap Laba Perlembar Saham (EPS)

( x + 47 + Lampiran )

Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan perusahaan. Data keuangan perusahaan terdiri dari neraca konsolidasi, laporan laba rugi, laporan perubahan arus kas, laporan perubahan modal dan catatan atas laporan keungan.
Untuk menentukan prospek dan resiko yang akan didapat dalam menginvestasikan dana pada suatu perusahaan ada baiknya menganalisa laporan keuangan dari perusahaan tersebut. Profitabilitas dan Leverage merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat laba perlembar saham dan mengetahui kinerja dari perusahaan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah profitabilitas dan leverage mempengaruhi laba perlembar saham. Sampel penelitian didapat dari perusahaan retail yang terdapat di bursa efek Indonesia. Laba perlembar saham merupakan variabel tidak bebas (dependent) dan profitabilitas, leverage merupakan variabel bebas (independent). Pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS 17.

Daftar Pusataka ( 1996-2007)







PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada prinsipnya pemenuhan kebutuhan dana suatu perusahaan dapat disediakan dari sumber intern dan ekstern perusahaan. Sumber Intern yaitu sumber dana yang dihasilkan sendiri oleh perusahaan, misalnya laba ditahan (retained earning). Apabila perusahaan memenuhi kebutuhan dananya dari sumber intern dikatakan perusahaan itu melakukan pendanaan intern (internal financing). Selain sumber intern, suatu perusahaan dapat pula memenuhi kebutuhan dananya dari sumber ekstern, yaitu sumber dana yang berasal dari tambahan penyertaan modal dari pemilik atau emisi saham baru, penjualan obligasi dan kredit dari bank. Bila perusahaan memenuhi kebutuhan dananya dari luar perusahaan maka itu disebut sebagai pendanaan ekstern (eksternal financing). Dan bila perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dananya dipenuhi dari dana yang berasal dari pinjaman dikatakan perusahaan tersebut melakukan pendanaan hutang (debt financing). Dan jika perusahaan memenuhi kebutuhan dananya dari emisi atau penerbitan saham baru, maka dikatakan perusahaan tersebut melakukan pendanaan modal sendiri (external equity financing).
Pasar modal adalah salah satu dari beberapa sarana yang ada untuk mendapatkan modal bagi perusahaan. Salah satu syarat bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan modal melalui pasar modal adalah perusahaan tersebut sudah harus terdaftar sebagai perusahaan yang go public.
Didalam pasar modal pihak yang memerlukan dana dapat menawarkan sekuritas jangka panjang perusahaannya, dan pihak yang memiliki kelebihan dana dapat berinvestasi dengan membeli sekuritas tersebut. Sekuritas merupakan secarik kertas yang menunjukan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya. Apabila sekuritas ini diperjualbelikan, dan merupakan instrumen keuangan yang berjangka panjang, maka penerbitnya dilakukan di pasar yang disebut sebagai pasar modal, sedangkan kegiatan perdagangannya dilakukan di bursa. Di Indonesia terdapat dua bursa yaitu PT.Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan PT.Bursa Efek Surabaya (BES) yang pada tahun 2007 bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investor atau calon investor yang ingin menanamkan dananya dalam surat berharga harus melakukan analisis surat berharga dan kondisi yang berkaitan dengan penerbitan surat berharga. Hal ini dilakukan untuk menentukan prospek dan tingkat resiko dari surat berharga tersebut. Untuk dapat menganalisis surat berharga, investor / calon investor memerlukan informasi yang relevan dan dapat dipercaya. Informasi yang dibutuhkan investor terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan yang semuanya merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Perusahaan penerbit sekuritas memiliki tanggung jawab dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan serta wajib menyampaikan kepada BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal).
Profitabilitas dan Leverage adalah tolok ukur yang sering digunakan dalam pengukuran kinerja perusahaan bagi investor khususnya dalam hal ini laba per lembar saham. Earning Per Share adalah variable dependent yang merupakan perbandingan antara jumlah earning (EAT) dengan jumlah saham yang beredar. EPS merupakan rasio keuangan yang digunakan investor untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan saham yang dimiliki. Profitabilitas menurut R. Agus Sartono (1997:130) adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Rasio profitabilitas ini akan memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas pengelolaan perusahaan. Leverage merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban financial baik jangka panjang maupun pendek (Sartono, 1996).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan program SPSS 17, dengan metode regresi linear berganda dimana Earning Per Share ( laba per lembar saham ) sebagai variabel dependent atau indikator yang secara ringkas menyajikan kinerja perusahaan yang dinyatakan dengan laba serta rasio Profitabilitas dan Leverage sebagai variabel independent.
Menyadari pentingnya Earning Per Share, Profitabilitas dan Leverage sebagai alat ukur kinerja perusahaan penerbit sekuritas (dalam hal ini saham) bagi para investor/ calon investor dalam menentukan prospek dan resiko dari sekuritas yang didanai oleh investor/ calon investor maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai permasalahan tersebut dalam penulisan ilmiah yang berjudul “PENGARUH PROFITABILITAS DAN LEVERAGE TERHADAP LABA PERLEMBAR SAHAM, PADA PT. UNILEVER Tbk

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah untuk penulisan ilmiah ini, yaitu :
1. Apakah Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Laba Perlembar Saham pada PT.UNILEVER Tbk ?
2. Apakah Leverage berpengaruh signifikan terhadap Laba Perlembar Saham pada PT. UNILEVER Tbk?
3. Apakah Profitabilitas, dan Leverage secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Laba Perlembar Saham PT. UNILEVER Tbk?
1.3 Batasan Masalah
Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi kinerja sebuah perusahaan, maka dalam penulisan ini penulis membatasi permasalahan sebagai berikut:
1. Data-data yang digunakan dalam analisis dan pembahasan penulisan ilmiah ini adalah data laporan keuangan publikasi tahunan PT. UNILEVER Sentosa Tbk mulai dari periode tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan tahun 2008
2. Dalam penulisan ilmiah ini penulis membahas mengenai pengaruh Profitabilitas dan leverage terhadap laba perlembar PT. UNILEVER Tbk dengan metode regresi linear berganda.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penulis melakukan penulisan ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh Profitabilitas terhadap Laba Perlembar Saham pada PT. UNILEVER Tbk.
2. Untuk mengetahui pengaruh Leverage terhadap Laba Perlembar Saham PT. UNILEVER Tbk.
3. Untuk mengetahui pengaruh Profitabilitas dan Leverage secara bersama-sama terhadap Laba Perlembar Saham PT. UNILEVER Tbk.




1.5 Manfaat Penelitian
1.1 Manfaat Akademis
Memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman untuk mengetahui pengaruh Profitabilitas dan Leverage terhadap Laba Perlembar Saham.

1.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis : Memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman untuk mengetahui penerapan teori yan diperoleh dari perkuliahan dan buku literature yang dipraktekan dalam perusahaan.
b. Bagi Perusahaan yang terkait : Sebagai bahan masukan untuk mengetahui sejauh mana kinerja perusahaan tersebut sehingga dapat menentukan langkah dalam pembagian deviden.
c. Bagi Investor : Penulis memberikan masukan atau sebagai alat bantu bagi para investor pemula / calon investor dalam menilai prospek dan resiko dari suatu sekuritas terutama saham.


1.3 Metodologi Penelitian
1.3.1 Objek Penelitian
PT. UNILEVER Tbk yang sudah Go Public di BEI merupakan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur yang beralamat di Graha Unilever Jl. Jend. Gatot Subroto kav.15 Jakarta.


1.3.2 Data / Variabel
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan publikasi PT.UNILEVER tbk periode tahun 2004, 2005, 2006, 2007, dan tahun 2008. Variable yang digunakan adalah metode regresi linear berganda dimana laba per lembar saham sebagai variabel dependent serta rasio profitabilitas dan leverage sebagai variabel independent.

1.3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang diperoleh penulis berupa data sekunder. Untuk mendapatkan data tersebut penulis melakukan kunjungan ke website dengan alamat http://www.idx.co.id

1.3.4 Alat Analisis
Penulis menggunakan data berupa data kuantitatif (berupa angka), dengan alat analisis sebagai berikut:
1. Statistik Inferensial, merupakan bidang ilmu statistik yang mempelajari cara penarikan suatu kesimpulan dari suatu populasi tertentu berdasarkan sampel yang dikumpulkan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan uji regresi linear berganda untuk meneliti apakah terdapat pengaruh antara variabel dependent (EPS) dan variabel independent (Profitabilitas dan leverage) pada PT.UNILEVER Tbk dengan rumus :

^
Y = a0 + a1x1 + a2x2

Keterangan :
a0, a1, a2 = Konstanta
X1 = Profitabilitas modal sendiri
X2 = Leverage


1.6.5 Hipotesis
Berdasarkan permasalahan yang ada dan tujuan yang ingin dicapai maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan dari profitabilitas dan leverage terhadap laba perlembar saham
Ha : Ada pengaruh yang signifikan dari profitabilitas dan leverage terhadap laba perlembar saham


1.6.6 Alat Pengolahan Data
Penulis menggunakan bantuan program SPSS 17, karena software ini merupakan yang paling sering digunakan dalam kegiatan penlitian dan juga mudah dipelajari.

LANDASAN TEORI

2.1 Kerangka Teori
2.1.1 Pengertian Pasar Modal
Pasar uang dan Pasar modal keduanya merupakan bagian dari pasar keuangan (financial market) yang merupakan sarana pengerahan dana atau tempat mempertemukan pihak yang kelebihan dana dan pihak yang mengalami kekurangan dana dan terbentuk untuk memudahkan pertukaran uang antara penabung dan peminjam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa secara ekonomi, tujuan pasar keuangan adalah untuk mengalokasikan tabungan (saving) secara efisien dari pemilik dana kepada pengguna dana akhir. Pemilik dana adalah mereka, baik idividu maupun lembaga atau badan usaha, yang mentisihkan kelebihan dana yang dimilikinya untik diinvestasikan agar lebih produktif. Sementara itu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tantang Pasar Modal, pada pasal 1 angka 13 memberikan rumusan pengertian pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan Perdagangan efek, Perusahaan Publik yang berkaita dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. Sesuai denagn rumusan pengertian tersebut, Undang-Undang Pasar Modal tidak memberikan suatu definisi tentang pasar modal secara menyeluruh melainkan lebih menitikberatkan kepada kegiatan dan para pelaku dari suatu pasar modal.
Ada tiga definisi pasar modal :
1. Definisi yang luas
Pasar modal adalah kebutuhan system keuangan system keuangan yang terorganisasi, termasuk bank-bank komersial dan semua perantara di bidang keuangan, serta surat-surat kertas berharga/klaim, jangka panjang dan jangka pendek, primer dan yang tidak langsung.
2. Definisi dalam arti menengah
Pasar modal adalah semua pasar yang terorganisasi dan lembaga-lembaga yang memperdagangkan warkat-warkat kredit (biasanya yang berjangka waktu lebih dari satu tahun) termasuk saham-saham, obligasi-obligasi, pinjaman berjangka hipotek dan tabungan serta deposito berjangka.
3. Definisi dalam arti sempit
Pasar modal adalah tempat pasar terorganisasi yang memperdagangkan saham-saham dan obligasi-obligasi dengan memakai jasa dari makelar, komosioner dan para underwriter.
Secara umum pengertian pasar modal adalah pasar abstrak sekaligus pasar konkret dengan barang yang diperjualbelikan adalah dana yang bersifat abstrak, dan bentuk konkretnya adalah lembar surat-surat berharga di bursa efek.
Sedangkan pengertian Bursa Efek menurut J. Bogen: “Bursa efek adalah suatu system yang terorganisasi dengan mekanisme resmi untuk mempertemukan penjual dan pmbeli efek secara langsung atau melalui wakil-wakilnya”

2.12 Fungsi Pasar Modal
Dalam era globalisasi dewasa ini hamper setiap negara menaruh perhatian yang besar terhadap eksistensi pasar modal, terutama mengingat perananya yang strategis bagi penguatan kethan ekonomi suatu negara. Terjadinya plarian modal ke luar negeri sesungguhnya bukan hanya akibat dari merosotnya nilai rupiah (depresiasi) atau tingginya inflasi dan tingkat suku bunga di suatu negara, akan tetapi juga sebagai akibat tidak tersedianya alternative investasi yang menguntungkan di negara bersangkutan dan atau pada saat yang sama investasi portofolio di bursa negara lain menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bursa di negara asalnya.
Dengan demikian pasar modal dapat memainkan peran penting bagi perkembangan ekonomi suatu negara, karena sebagaimana dikemukakan oleh Munir Fuadi (1996:11) suatu pasar modal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
1. Sarana untuk menghimpun dana-dana masyarakat untuk disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan yang produktif.
2. Sumber pembiayaan yang mudah, murah dan cepat bagi dunia usaha dan pembangunan nasional.
3. Mendorong terciptanya kesempatan berusaha dan sekaligus menciptakan kesempatan kerja.
4. Mempertinggi efisiensi alokasi sumber produksi.
5. Memperkokoh beroperasinya mekanisme financial market dala menata sistem moneter, karena pasar modal dapat menjadi sarana “open market operation” sewaktu-waktu diperlukan oleh Bank Sentral.
6. Menekan tingginya tingkat bunga menuju suatu “rate” yang reasonable.
7. Sebagai alternative investasi para pemodal.







2.1.2 Manfaat Keberadaan Pasar Modal
Menurut William F. Shape, dkk (2005) pasar modal memberikan manfaat antara lain:
1. Menyediakan sumber pendanaan atau pembiayaan jangka panjang
2. Memberikan wahana investasi bagi investor
3. Memungkinkan penyebaran kepemilikan perusahaan
4. Mendorong pengolaan perusahaan dengan iklim terbuka

2.1.3 Pengertian Investasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1999 : 337), investasi adalah penanaman uang / modal di suatu perusahaan atau proyek dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Sedangkan menurut Jogiyanto H.M ( 1998 : 5), Investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan didalam produksi yang efisien selama periode waktu tertentu. Menurut William F. Sharpe dkk (2005), investasi dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Investasi Nyata (Real Investment)
Ialah investasi yang secara umum melibatkan asset berwujud seperti tanah, mesin, dan pabrik.
2. Investasi keuangan (Financial investment)
Ialah investasi yang melibatkan kontrak tertulis seperti saham biasa dan obligasi.

2.13.1 Tujuan Investasi
1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa yang akan datang. Seorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya bagimana berusaha untuk mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang.
2. Mengurangi tekanan inflasi. Dengan melakukan investasi dalam pemilihan perusahaan atau objek lain, seseorang dapat menghindarkan diri agar kekayaan atau harta miliknya tidak merosot nilainya krena digerogoti oleh inflasi.
3. Dorongan untuk menghemat pajak. Beberapa Negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang sifatnya mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui fasilitas perpajakan yang diberikan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.

2.13.2 Jenis-jenis Investasi
Menurut Sabar Warsini (2003) jenis-jenis Investasi itu Tergantung pada perusahaan yang menjalankannya, usulan investasi ada berbagai tipe. Untuk tujuan analisis, usulan investasi dibedakan menjadi :
1. Pengenalan Produk baru
Yaitu investasi modal yang tujuannya untuk menghasilka produk baru.
2. Ekspansi Produk lama atau penambahan kapasitas
Yaitu investasi modal yang tujuannya untuk memperluas produk yang selama ini telah dihasilkan perusahaan atau untuk menambah kapasitas misalnya pendirian pabrik baru.
3. Penggantian peralatan atau membangun gedung
Yaitu investasi modal yang tujuannya untuk mengganti mesin yang lama dengan yang baru atau untuk membangun gedung.
4. Penelitian dan pengembangan
Yaitu investasi modal yang tujuannya untuk memperoleh hal-hal baru atau pertumbuhan perusahaan dengan cara mengadakan penelitian-penelitian dan program-program pengembangan.
5. Eksplorasi
Yaitu investasi modal yang tujuannya untuk mengeksplorasi sumber-sumber alam.


2.1.4 Definisi Saham
Saham adalah secarik kertas yang menunjukan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan saham tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya (Agnes Sawir, 2004:90).
Jenis saham menurut Tjiptono Darmadi dan Hendy M.F (2006) terdiri dari:
1. Ditinjiau dari segi kemampuan dalam hak tagih
- Saham biasa (common stock), yaitu saham yang menempatkan pemiliknya pada posisi paling akhir dalam pembagian deviden dan hak atas kekayaan ketika perusahaan mengalami likuidasi.
- Saham preferen (preferred stock), yaitu saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa.
2. Ditinjau dari cara peralihan
- Saham Atas Unjuk, ialah saham yang nama pemiliknya tidak tertera dalam lembaran saham
- Saham Atas Nama, ialah saham yang nama pemiliknya tertera dalam lembaran saham
3. Ditinjau dari kinerja perdagangan
- Saham Unggulan
- Saham Pendapatan
- Saham Pertumbuhan
- Saham Spekulatif
- Saham Siklikal




2.1.5 Definisi Profitabilitas
Profitabilitas menurut Tjiptono Darmadi dan Hendy M.F (2006) adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Rasio profitabilitas ini akan memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas pengelolaan perusahaan. Semakin tinggi profitabilitas berarti semakin baik, karena kemakmuran pemilik perusahaan meningkat dengan semakin tingginya profitabilitas. Ada bermacam cara untuk mengukur profitabilitas, yaitu:


1. Return on Asset (ROA)
Return on Asset (ROA) adalah perbandingan antara laba bersih dengan total aktiva yang tertanam dalam perusahaan. ROA digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas asset yang dimiliki perusahaan.



2. Return on Equity (ROE)
ROE menunjukan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atas penggunaan modal sendiri.



3. Rentabilitas Ekonomi
Rentabilitas Ekonomi merupakan perbandingan antara laba dengan total kekayaan yang dimilikinya (Indriyo Gitosudarmo, 2003: 218)



Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua rasio yang digunakan untuk mengukur Profitabilitas perusahaan yaitu ROE, dan ROA. Jika sebuah perusahaan lebih profitable maka pendanaannya lebih banyak berasal dari pendanaan secara internal.

2.1.6 Definisi Leverage
Menurut Agnes Sawir (2004), tingkat risiko dan return saham perusahaan merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan calon investor sebelum mengambil keputusan investasi saham. Return saham dan resiko berhubungan secara linier dengan leverage yang akan digunakan oleh perusahaan. Apabila risiko tinggi maka para pemegang saham akan meminta return saham yang tinggi pula, disamping itu penggunaan leverage juga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur leverage perusahaan yaitu dengan menggunakan total debt to total asset ratio.
Menurut S. Munawir (1995 : 18), hutang / leverage adalah semua kewajiban keuangan perusahaan pada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana/ modal yang berasal dari kreditor. Hutang atau kewajiban perusahaan dapat dibedakan menjadi hutang jangka pendek ( hutang yang harus dilunasi dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun ), dan hutang jangka panjang ( hutang yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun atau lebih).





2.1.7 Definisi Earning per share
Earning per share (Laba perlembar saham) merupakan indikator yang secara ringkas menyajikan kinerja perusahaan yang dinyatakan dengan laba. Menurut mainingrum (2005) earning per share berpengaruh negatif terhadap saham karena earning per share yang tinggi mengindikasikan kinerja perusahaan yang baik. Menurut Supriyadi (2001) earning per share mempunyai pengaruh positif terhadap saham, karena perubahan dalam penggunaan utang akan mengakibatkan perubahan laba per lembar saham (EPS) sehingga mengakibatkan perubahan harga saham. Semakin tinggi persentase utang semakin tinggi resiko yang ditanggung perusahaan, sehingga investor akan mensyaratkan keuntungan sesuai dengan resiko yang ditanggungnya.
Earning per Share (EPS) menggambarkan laba bersih perusahaan yang diterima setiap saham.


2.1.8 Faktor –faktor yang mempengaruhi Laba Per Lembar Saham
Dibawah ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi laba per lembar saham antara lain sebagai berikut :
Menurut J.Fred Weston dan Thomas E Copeland (1996:232) tujuan dari rasio Profitabilitas yaitu mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada, apabila rasio ini menurun maka laba per lembar sahamnya akan menurun juga begtu pula sebaliknya.

Menurut Sofyan Safri Harahap (2001:306) rasio Leverage yaitu untuk mengetahui apakah perusahaansudah mampu untuk memenuhi kewajiban (hutang) apabila perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka akan sangat mempengaruhi laba per lembar sahamnya dan apabila resiko tinggi maka para pemegang saham akan meminta return saham yang tinggi juga.

Menurut Weston dan Brigham (2001:26), faktor-faktor yang mempengaruhi laba per lembar saham adalah :
1. Tingkat bunga
Tingkat bunga dapat mempengaruhi laba per lembar saham dengan cara:
a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dengan obligasi,apabila suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk ditukarkan dengan obligasi. Hal ini akan menurunkan laba per lembar saham. Hal sebaliknya juga akan terjadi apabila bunga mengalami penurunan.
b. Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya, semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan. Suku bunga juga mempengaruhi kegiatan ekonomi yang juga akan mempengaruhi laba perusahaan.

4. Jumlah kas deviden yang diberikan
Kebijakan pembagian deviden dapat dibagi menjadi dua,yaitu sebagian dibagikan dalam bentuk deviden dan sebagian disisihkan sebagai laba ditahan. Sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi laba per lembar saham, maka peningkatan pembagian deviden merupakan salah satu cara utuk meningkatkan kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas deviden yang besar adalah yang diinginkan oleh investor sehingga harga saham naik.

5. Jumlah laba yang didapat perusahaan
Pada umumnya, investor melakukan investasi pada perusahaan yang
mempunyai profit yang cukup baik karena menunjukkan prospek yang cerah sehingga investor tertarik untuk berinvestasi, yang nantinya akan mempengaruhi harga saham perusahaan.

6. Tingkat Resiko dan Pengembalian
Apabila tingkat resiko dan proyeksi laba yang diharapkan perusahaan meningkat maka akan mempengaruhi laba per lembar saham perusahaan. Biasanya semakin tinggi resiko maka semakin tingi pula tingkat pengembalian saham yang diterima.


2.1.9 Kajian Penelitian Sejenis

1. Penelitian yang dilakukan oleh Dhita Ayudia Wulandari (2005) yang berjudul “Analisis Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Ukuran Perusahaan terhadap Laba Per Lembar Saham pada PT. Multipolar Coorporation Tbk” mengatakan bahwa Ukuran perusahaan memiliki korelasi yang terkuat terhadap laba per lembar saham PT. Multipolar Coorporation Tbk dibanding dengan variabel independent lainnya

2. Penelitian yang dilakukan oleh Anggrawit Kusumawardani (2006) yang berjudul “Analisis Pengaruh Profitabilitas, Leverage terhadap Laba Per Lembar Saham pada PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk” mengatakan bahwa secara parsial Profitabilitas dan Leverage tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap laba per lembar saham.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Yanti (2006) yang berjudul “Pengaruh Finansial Leverage terhadap Laba Per Lembar Saham pada PT. Indofood” menyatakan bahwa tingkat financial leverage mempunyai hubungan positif dan lemah dari hasil penelitian yang di dapat memiliki arti jika tingkat leverage tidak mengalami perubahan maka tingkat pendapatan per lembar saham diprediksi akan meningkat



3.1 Objek Penelitian
3.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan
Objek penelitian dari penulisan ini adalah PT. Unilever Tbk yang beralamat di Graha Unilever Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.15, Jakarta. Yang didirikan pada tanggan 05 Desember 1933. PT. Unilever Indonesia Tbk (perusahaan) didirikan pada tanggal 05 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever dengan akta No. 33 yang dibuat oleh Tn.A.H van Ophuijsen, notaris di Batavia. Akta ini disetujui oleh Gubernur Jenderal van Negerlandsch-Indie dengan surat No.14 pada tanggal 16 Desember 1933, terdaftar di Raad van Justitie di Batavia dengan No. 302 pada tanggal 22 Desember 1933 dan diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 9 Januari 1934 tambahan No. 3. Dengan akta No. 171 yang dibuat oleh notaris Ny. Kartini Mulyadi tertanggal 22 juli 1980, nama perusahaan diubah menjadi PT. Unilever Indonesia. Dengan akta No. 92 yang dibuat oleh notaris Tn. Mudofir Hadi,S.H. tertanggal 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT. Unilever Indonesia Tbk. Akta ini disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan keputusan No.C2-1.049HT.01.04TH.98 tertanggal 23 Februari 1998 dan diumumkan di Berita Negara No. 2620 tanggal 15 Mei 1998 Tambahan No. 39.

3.1.2 Visi dan Misi PT. Unilever Tbk.
Visi dan Misi dari PT. Unilever yaitu To become the first choice of consumer, costumer and community.

3.1.3 Struktur Organisasi

Dewan Komisaris
Jabatan Nama
Presiden Komisaris Jan Zijderveld
Komisaris Theodore Permadi Rachmat
Komisaris Kuntoro Mangkusubroto
Komisaris Cyrillus Harinowo
Komisaris Bambang Subianto


Dewan Direksi
Jabatan Nama
Presiden Direktur Maurits Daniel Rudolf Lasilang
Direktur Graeme David Pitkethly
Direktur Mohammad Efendi Suparsono
Direktur Joseph Bataona
Direktur Surya Dharma Mandala
Direktur Debora Herawati Sudrach
Direktur Andreas Moritz Egon Rompis
(sampai 1 Nov 2008)
Direktur Okty Damayanti








3.2 Data yang digunakan
Data yang digunakan oleh penulis adalah:
1. Untuk mencari Profitabilitas PT. Unilever Tbk, penulis menggunakan data keuangan berupa laporan Laba Rugi konsolidasi periode tahun 2004 hingga tahun 2008.
2. Untuk mencari Leverage PT. Unilever Tbk, penulis menggunakan data keuangan berupa Neraca Konsolidasi periode tahun 2004 hingga tahun 2008.
3. Untuk mencari Earning Per Share (Laba Per Lembar Saham) PT. Unilever Tbk, penulis menggunakan data keuangan berupa Neraca Konsolidasi periode tahun 2004 hingga tahun 2008.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang diperoleh penulis berupa data sekunder. Untuk mendapatkan data tersebut penulis melakukan kunjungan ke website dengan alamat http://www.idx.co.id. Data yang dikumpulkan penulis berupa data laporan keuangan publikasi tahunan PT. Unilever Tbk periode tahun 2004 hingga tahun 2008
3.4 Alat Analisis Yang Digunakan
1. Statistik Inferensial, merupakan bidang ilmu statistika yang mempelajari cara penarikan kesimpulan berdasarkan sampel yang berhasil dikumpulkan. Dalam penelitian ini peniliti menggunakan uji rregresi linear berganda untuk meneliti apakah terdapat pengaruh antara variabel dependent (EPS) dan variabel independent (Profitabilitas dan leverage) pada PT.Ramayana Lestari Sentosa Tbk dengan rumus :



Keterangan :
a0, a1, a2 = Konstanta
X1 = Profitabilitas modal sendiri
X2 = Leverage

3.5 Hipotesis
H0 : Tidak ada pengaruh yang signifikan profitabilitas dan leverage terhadap EPS ( laba per lembar saham )pada PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk.
Ha : Ada pengaruh yang signifikan profitabilitas dan Leverage terhadap EPS ( laba per lembar saham ) pada PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk.


3.5 Alat Pengolah Data
Penulis menggunakan bantuan program SPSS 17, karena software ini merupakan software yang paling sering digunakan dalam kegiatan penelitian dan juga mudah dipelajari.








4.1.1 Profil perusahaan
PT. Unilever Tbk didirikan pada tanggal 5 Desember 1933 dengan nama Lever’s Zeepfabriaken N.V. dengan akta No.23 Mr. A.H Van Ophuijsen, notaries di Batavia, disetujui oleh Gouverneur Generaal van Nedelandsch dengan surat No. 14 tanggal 16 Desember 1993, didaftarkan di Raad van Justitie di Batavia dengan No.302 pada tanggal 22 Desember, dan diumumkan dalam Javasche Courant tanggal 9 Januari 1934 Tambahan No.3.

Nama Perseroan diubah menjadi “PT. Unilever Indonesia” dengan akta No. 171 tanggal 22 Juli 1980 dari notaries Ny. Kartini Muljadi,S.H. Selanjutnya perubahan nama Perseroan menjadi “PT. Unilever Indonesia Tbk”, dilakukan dengan ajta notaries Tn. Mudofir Hadi,S.H. No. 92 tanggal 30 Juni 1997. Akta ini disetujui oleh Menteri Kehakiman dalam surat keputusan No. C2-1.049HT.01.04 Tahun 1998 tanggal 23 Februari 1988 dan diumumkan dalam Berita Negara No. 39 tanggal 15 Mei 1988, tambahan No.2620.

Kegiatan usaha Perseroan meliputi bidang Produksi, Pemasaran dan Distribusi barang-barang konsumsi yang meliputi sabun , deterjen, margarin, makanan berinti susu, es krim, produk-produk kosmetik, minuman dengan bahan pokok the dan minuman dengan sai buah.

Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaries No. 16 tanggal 18 Juni 2008 dari Haji Syarif Siangan Tanudjaja,S.H., notaries di Jakarta, dalam rangka memenuhi ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Perubahan Anggaran Dasar Perseroan ini telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam surat keputusan No. AHU-51473.AH.01.02 tanggal 15 Agustus 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 75 tanggal 16 September 2008, tambahan No. 18026

Pada tanggal 16 November 1981, Perseroan mendapat persetujuan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No. SI-009/PM/E/1981 untuk menawarkan 15% sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 13 Juni 2000, para pemegang saham menyetujui untuk melakukan pemecahan saham (stock split) dengan mengubah nilai nominal saham dari Rp 1000 (nilai penuh) menjadi Rp 100 (nili penuh) per lembar saham. Perubahan ini diaktakan dengan akta notaris Singgih Susilo S.H. No.19 tanggal 4 Agustus 2000 dan disetujui oleh Menteri Hukum dan Perundang-undangan (dahulu Menteri Kehakiman) Republik Indonesia dalam surat keputusan No. C-18481 HT. 01.04-TH.2000.

Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 24 Juni 2003, para pemegang saham menyetujui unyuk melakukan pemecahan saham (stock split) dengan mengubah nilai nominal saham dari Rp 100 (nilai penuh) menjadi Rp 10 (nilai penuh) per lembar saham. Perubahan ini diaktakan dengan akta notaries Singgih Susiilo, S.H. No. 46 tanggal 10 Juli 2003 dan disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam surat keputusan No. C-17533 HT.01.04-TH.2003.


4.1.2 Manajemen Perusahaan
Tabel 4.1
Susunan Kepengurusan
Dewan Komisaris dan Dewan Direksi
PT. Unilever Indonesia Tbk
2008
Dewan Komisaris
Jabatan Nama
Presiden Komisaris Jan Zijderveld
Komisaris Theodore Permadi Rachmat
Komisaris Kuntoro Mangkusubroto
Komisaris Cyrillus Harinowo
Komisaris Bambang Subianto





Dewan Direksi
Jabatan Nama
Presiden Direktur Maurits Daniel Rudolf Lasilang
Direktur Graeme David Pitkethly
Direktur Mohammad Efendi Suparsono
Direktur Joseph Bataona
Direktur Surya Dharma Mandala
Direktur Debora Herawati Sudrach
Direktur Andreas Moritz Egon Rompis
(sampai 1 Nov 2008)
Direktur Okty Damayanti






4.2 Hasil Perhitungan Variabel Bebas dan Tidak Bebas
4.2.1 Perhitungan variabel bebas tahun 2004 hingga tahun 2008
1. Profitabilitas ( data berasal dari laporan laba / rugi konsolidasi )
ROA ( Rate on Assets )
Rasio yang menunjukkan perbandingan antara laba bersih dengan total assets yang tertanam dalam perusahaan, digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas assets yang dimiliki perusahaan



Tahun 2004 = 1.464.182.000.000 = 0.401464945
3.647.098.000.000
Tahun 2005 = 1.440.485.000.000 = 0.374896775
3.842.351.000.000
Tahun 2006 = 1.721.595.000.000 0.37215629
4.626.000.000.000
Tahun 2007 = 1.964.652.000.000 0.368367231
5.333.406.000.000
Tahun 2008 = 2.407.231.000.000 0.370073589
6.504.736.000.000






ROE (Return on Equity)
Rasio yang menunjukkan perusahaan dalam memperoleh laba atas modal sendiri.



Tahun 2004 = 1.464.182.000.000 0.648313642
2.258.447.000.000
Tahun 2005 = 1.440.485.000.000 0.662741094
2.173.526.000.000
Tahun 2006 = 1.721.595.000.000 = 0.726863151
2.368.527.000.000
Tahun 2007 = 1.964.652.000.000 0.729773069
2.692.141.000.000
Tahun 2008 = 2.407.231.000.000 0.776447983
3.100.312.000.000






2.Leverage (data berasal dari Neraca Konsolidasi)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya bila pada suatu saat perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan.




Tahun 2004 = 1.370.368.000.000 0.375742028 3.647.098.000.000
Tahun 2005 = 1.658.391.000.000 0.431608408 3.842.351.000.000
Tahun 2006 = 2.249.381.000.000 0.486247514
4.626.000.000.000
Tahun 2007 = 2.639.287.000.000 0.49485957
5.333.406.000.000
Tahun 2008 = 3.397.915.000.000 0.522375543
6.504.736.000.000

4.2.2 Perhitungan Variabel Tidak Bebas tahun 2004 hingga tahun 2008
a. Laba Perlembar Saham (data berasal dari laporan Laba / Rugi Konsolidasi)
Tahun 2004 = 192
Tahun 2005 = 189
Tahun 2006 = 226
Tahun 2007 = 257
Tahun 2008 = 315






4.3 Analisis Penelitian
4.3.1 Analisis Pengolahan Data




Tabel 4.3
Hasil perhitungan dengan SPSS 17
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
EPS 5 189 315 235.80 52.266
PROFITABILITAS 5 1.037637869 1.146521572 1.08621955380 .043676077149
LEVERAGE 5 .375742028 .522375543 .46216661260 .058474026857
Valid N (listwise) 5



Sumber : Data Hasil Pengolahan dengan Program SPSS
Analisis:
Rata-rata laba per lembar saham PT. Unilever Tbk mulai tahun 2004 hingga tahun 2008 sebesar 235.80
Rata-rata Profitabilitas PT. Unilever Tbk mulai tahun 2004 hingga tahun 2008 sebesar 1.08621955380
Rata-rata Leverage PT. Unilever Tbk mulai tahun 2004 hingga tahun 2008 sebesar 0.46216661260





Variables Entered/Removed

Model Variables Entered Variables Removed Method
1 LEVERAGE, PROFITABILITASa . Enter
a. All requested variables entered.

Sumber : Data Hasil Pengolahan dengan Program SPSS

Analisis:

Tabel Variabel Entered/Removed menunjukkan bahwa tida ada variabel yang dikeluarkan atau dengan kata lain kedua variabel bebas dimasukkan ke dalam perhitungan regresi.


Tabel 4.5
Hasil Perhitungan dengan SPSS

Tabel 4.4
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -977.797 390.246 -2.506 .129
PROFITABILITAS 1098.825 487.261 .918 2.255 .153
LEVERAGE 43.343 363.951 .048 .119 .916
a. Dependent Variable: EPS
Hasil Perhitungan dengan SPSS
Sumber : Data Hasil Pengolahan dengan Program SPSS


1. Pengaruh profitabilitas terhadap EPS (laba per lembar saham)
Hipotesis :
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Profitabilitas dengan EPS (laba per lembar saham) pada PT. Unilever Tbk.
Ha : Ada pengaruh yang signifikan antara Profitabilitas dengan EPS (laba per lembar saham) pada PT. Unilever Tbk.
a) Menghitung t penelitian
Hasil dari perhitungan SPSS didapat t penelitian sebesar 2.255
b) Menghitung t table
Tarif signfikan yang ditetapkan sebesar 0.05 dan derajat kebebasan (DK) = n - 2 atau 5 - 2 = 3
Jadi, t tabel = 2.353.
c) Menentukan kriteria
Jika t penelitian > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika t penelitian < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.
d) Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh t penelitian 2.255 dan t tabel 2.353 maka Ho diterima dan Ha ditolak yaitu tidak ada pengaruh yang signifikan antara profitabilitas dengan EPS (laba per lembar saham).

2. Pengaruh Leverage dengan EPS (laba per lembar saham)
Hipotesis :
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara Leverage dengan EPS (laba per lembar saham) pada PT. Unilever Tbk.
Ha : Ada pengaruh yang signifikan antara Leverage dengan EPS (laba per lembar saham) pada PT. Unilever Tbk.
a) Menghitung t penelitian
Hasil dari penelitian SPSS t penelitian didapat sebesar 0.119
b) Menghitung t tabel
Tarif signifikan yang ditetapkan sebesar 0.05 dan derajat kebebasan (DK) = n – 2 atau 5 – 2 = 3
t tabel = 2.353

d) Menentukan kriteria
Jika t penelitian > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika t penelitian < t tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.
e) Membuat keputusan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh t penelitian sebesar 0.119 t tabel sebesar 2.353 maka, Ho diterima dan Ha ditolak yaitu tidak ada pengaruh yang signfikan antara Leverage dengan EPS (laba per lembar saham)


Tabel 4.6
Hasil Perhitungan dengan SPSS

Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .961a .924 .847 20.425
a. Predictors: (Constant), LEVERAGE, PROFITABILITAS

Sumber : Data hasil perhitungan dengan SPSS


Analisis :

Angka R square adalah 0.924, angka tersebut dapat digunakan untuk melihat besarnya pengaruh Profitabilitas dan Leverage terhadap EPS (laba per lembar saham) dengan cara menghitung koefisien determinasi (KD) dengan menggunakan rumus.
KD = R2 x 100%
= 0.924 x 100%
= 92.4 %
Angka tersebut mempunyai maksud bahwa Profitabilitas dan Leverage secara gabungan mempunyai pengaruh yang kuat atau ada pengaruh terhadap laba per lembar saham.
Untuk menguji apakah model regresi diatas sudah benar atau salah diperlukan uji hipotesis. Uji hipotesis menggunakan angka F yang tertera dalam tabel ANOVA :

Tabel 4.7
Hasil Perhitungan dengan SPSS
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 10092.472 2 5046.236 12.097 .0076a
Residual 834.328 2 417.164
Total 10926.800 4
a. Predictors: (Constant), LEVERAGE, PROFITABILITAS
b. Dependent Variable: EPS
Sumber : Data hasil dari perhitungan SPSS

Analasis :

Hipotesis :
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan Profitabilitas dan Leverage terhadap EPS (laba per lembar saham) pada PT. Unilever Tbk.
Ha : Ada pengaruh yang signifikan Profitabilitas dan Leverage terhadap EPS (laba per lembar saham) pada PT. Unilever Tbk.

Membandingkan besarnya F penelitian dengan F tabel dengan langkah- langkah berikut ini :
1. Menghitung F penelitian
Dari hasil perhitungan SPSS didapat F penelitian 12.097
2. Menghitung F tabel
Tarif signifikan 5% dengan derajat kebebasan (DK) dengan ketentuan numerator jumlah variabel (k) – 1 atau 2 – 1 = 1 dan Donumerator = jumlah kasus (n) – 2 atau 5 -2 = 3. Dengan ketentuan tersebut didapat angka F tabel = 10.13
3. Menentukan kriteria hipotesis
Jika F penelitian > F tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika F penelitian < F tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.
4. Mengambil keputusan
Berdasarkan hasil perhtungan F penelitian sebesar 12.097 dan F tabel sebesar 10.13, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian model regresi diatas sudah benar. Kesimpulannya ada pengaruh yang signifikan Profitabilitas dan Leverage terhadap laba per lembar saham.


4.4 Rangkuman Hasil Penelitian
Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa :
1. Dengan bersumber pada data laporan keuangan PT. Unilever Tbk diperoleh persamaan regresi linear berganda :
Y = -977.797 + 1098.825 + 43.343 Constanta -977.797 menyatakan EPS yang diperoleh bila tidak ada variabel Profitabilitas dan Leverage. Koefisien X1 (Profitabilitas)= 1098.825 memiliki hubungan yang positif, artinya jika kenaikan Profitabilitas Rp 1, maka menyebabkan kenaikan EPS sebesar 1098.825 sedangkan koefisien X2 (Leverage)= 43.343 memiliki hubungan yang positif, artinya jika Leverage mengalami kenaikan Rp 1, menyebabkan kenaikan EPS sebesar 43.343.


2. Berdasarkan hasil perhitungan di mana t penelitian sebesar 2.255, sedangkan t tabel 2.353 , maka tidak ada pengaruh yang signifikan Profitabilitas terhadap laba per lembar saham atau EPS.

3. Hasil perhitungan t penelitian sebesar 0.119 , sedangkan t tabel 2.353 , maka tidak pengaruh signifikan Leverage terhadap laba per lembar saham atau EPS.

4. Angka R square 0.924, hal ini berarti dari variasi EPS dapat dijelaskan dengan variabel Profitabilitas dan Leverage sebesar 92.4%

5. Dari uji Anova atau F test, di dapat F penelitian 12.097 dengan
tingkat signifikan 0,0076 jauh lebih kecil dari 0,05 maka model regresi ini bisa di pakai untuk memprediksi EPS (laba per lembar saham) atau bisa dikatakan Profitabilitas dan Leverage secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap EPS (laba per lembar saham ).
Daftar Pustaka
Darmadji,Tjiptono dan Hendy M.F.2006. Pasar Modal di Indonesia.Jakarta : Salemba.

Harahap,Sofyan Safri. 2001. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan.Jakarta : Rajawali Pers.

Kusumawardani,Anggrawit.2006.
Analisis Pengaruh Profitabilitas,Leverage Terhadap Laba Per Lembar Saham.Jakarta: Universitas Gunadarma.

Ahmad,Kamarudin,S.E.1996.Dasar-dasar Manajemen Investasi.Jakarta : Rineka Cipta

Sharpe, F William and Gordon J. Alexander.2005.Investasi.Jakarta:Index.